Beranda | Artikel
Biografi Ibnu Hibban
9 jam lalu

Nama

Beliau adalah seorang imam besar dan ulama terkemuka, hafizh hadis yang sangat teliti dan kuat hafalannya, serta dikenal sebagai Syekh Khurasan. Nama lengkapnya adalah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu‘adz bin Ma‘bad bin Suhaid bin Hadiyah bin Murrah bin Sa‘d bin Yazid bin Murrah bin Zaid bin Abdullah bin Darim bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim At-Tamimi Al-Busti. Nasabnya bersambung kepada kabilah Bani Tamim. Ia dikenal sebagai penulis banyak karya ilmiah (shahib at-tashanif) yang bernilai tinggi dalam bidang hadis dan ilmu-ilmunya.

Kelahiran

Beliau rahimahullah lahir di kota Bust, wilayah Sijistan, sekitar tahun 270 H.

Perjalanan menuntut ilmu

Ibnu Hibban mulai menuntut ilmu sekitar tahun 300 H dan sejak awal menunjukkan kesungguhan yang luar biasa dalam mempelajari hadis. Ia melakukan perjalanan ilmiah yang sangat luas dan panjang, bahkan berlangsung hampir empat puluh tahun. Perjalanannya membentang dari wilayah Syasy di Asia Tengah hingga Iskandariyah di Mesir. Ia mengunjungi Khurasan, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Naisabur, serta negeri-negeri di seberang Sungai Oxus (kini wilayah Uzbekistan). Disebutkan bahwa ia memasuki sekitar lima puluh kota, dan di setiap kota itu ia memiliki sejumlah guru.

Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan banyak imam besar dan ulama terkemuka serta memperoleh sanad-sanad yang tinggi. Di antara guru-gurunya yang terkenal adalah Abu Khalifah Al-Fadhl bin Al-Hubab, Imam An-Nasa’i, dan Ja‘far bin Ahmad di Damaskus. Bahkan disebutkan bahwa ia meriwayatkan hadis dari lebih dari dua ribu guru, menunjukkan betapa luas jaringan keilmuannya.

Selain menuntut ilmu, ia juga aktif mengajarkan ilmu kepada para penuntut ilmu dan membimbing masyarakat dalam memahami agama. Di beberapa tempat seperti Samarkand, Naisabur, dan Nasa di wilayah Khurasan, ia pernah menjabat sebagai qadhi (hakim). Setelah menyelesaikan perjalanan ilmiahnya, ia kembali ke Naisabur, lalu pulang ke kampung halamannya di Bust. Di sanalah ia menetap dan menyelesaikan karya-karya ilmiahnya hingga akhir hayatnya. Kesungguhan belajar, banyaknya guru yang ia temui, serta luasnya perjalanan ilmiahnya menjadikannya salah satu ulama besar dalam bidang hadis.

Guru-guru

Di antara guru-guru Ibnu Hibban adalah Al-Husain bin Idris Al-Harawi, Abu Khalifah Al-Jumahi, Imam Abu Abdurrahman An-Nasa’i, Imran bin Musa bin Mujasyi‘, Al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya‘la Al-Maushili, Ahmad bin Al-Hasan Ash-Shufi, Ja‘far bin Ahmad Ad-Dimasyqi, dan Abu Bakar bin Khuzaimah. Selain mereka, masih banyak lagi guru lainnya yang jumlahnya sangat banyak, dari wilayah Mesir hingga Khurasan. Hal ini menunjukkan luasnya perjalanan ilmiah dan banyaknya ulama yang menjadi sumber ilmu baginya.

Murid-murid

Di antara murid-murid Ibnu Hibban adalah Abu Abdillah Al-Hakim, Manshur bin Abdullah Al-Khalidi, Abu Mu‘adz Abdurrahman bin Muhammad bin Rizqillah, Abu Al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin Harun Az-Zuzani, dan Muhammad bin Ahmad bin Manshur An-Nauqati, serta banyak lagi lainnya. Mereka termasuk para ulama yang kemudian turut menyebarkan dan mengembangkan ilmu hadis.

Karya-karya

Ibnu Hibban رحمه الله memiliki sangat banyak karya ilmiah dalam berbagai bidang, terutama hadis dan ilmu-ilmunya. Namun, sangat disayangkan karena sebagian besar karyanya telah hilang dan yang tersisa hingga sekarang hanya sedikit. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Anwa‘ wat-Taqasim, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Shahih Ibnu Hibban atau Al-Musnad Ash-Shahih. Kitab ini disusun dengan sistem yang rapi dan khusus, meskipun cukup sulit dipahami kecuali oleh orang yang benar-benar menguasai metodenya. Dalam mukadimah kitab tersebut, Ibnu Hibban menjelaskan bahwa ia hanya meriwayatkan hadis dari perawi yang memenuhi lima syarat, yaitu adil dalam agama dan berakhlak baik, dikenal jujur dalam meriwayatkan hadis, memiliki pemahaman yang baik terhadap hadis, mengetahui maknanya sehingga tidak salah dalam menyampaikannya, serta tidak melakukan tadlis (menyembunyikan cacat dalam sanad).

Selain kitab tersebut, ia juga menulis banyak karya lain, seperti Tafsir Al-Qur’an, Al-Jarh wat-Ta‘dil, Ats-Tsiqat, Adh-Dhu‘afa’, berbagai kitab Al-‘Ilal (tentang cacat hadis), Al-Musnad fil Hadits, As-Sunan, Syu‘ab Al-Iman, Shifat Ash-Shalah, Raudhat Al-‘Uqala’, Al-Jam‘ bain Al-Akhbar Al-Mutadadhah, dan Al-Hidayah ila ‘Ilm As-Sunan. Ia juga menulis kitab tentang biografi dan perawi hadis, seperti Ash-Shahabah, At-Tabi‘in, Taba‘ At-Tabi‘in, Al-Mu‘jam ‘ala Al-Mudun, serta kitab-kitab yang membedakan nama-nama perawi yang mirip agar tidak tertukar. Selain itu, ia menyusun kitab tentang keutamaan para imam seperti Manaqib Asy-Syafi‘i dan Manaqib Malik.

Banyaknya karya ini menunjukkan keluasan ilmu dan ketekunan Ibnu Hibban dalam menulis. Namun, sebagian besar kitabnya hilang karena kondisi zaman yang tidak stabil. Disebutkan bahwa ia pernah mewakafkan seluruh kitabnya untuk para penuntut ilmu di sebuah rumah, tetapi ketika terjadi kekacauan dan melemahnya kekuasaan, tempat tersebut dikuasai orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga banyak kitab-kitab beliau yang akhirnya hilang.

Fitnah yang menimpa Ibnu Hibban

Ujian yang menimpa Imam Ibnu Hibban termasuk peristiwa yang sangat berat dan hampir membahayakan nyawanya serta mengancam warisan ilmunya. Peristiwa ini menunjukkan betapa berbahayanya kesalahan dalam memahami makna suatu kata dan menafsirkan ucapan seseorang dengan makna yang tidak ia maksudkan. Dalam hal ini, kita teringat perkataan Imam Malik,

إذا قال الرجل قولا يحتمل الكفر من تسعة وتسعين وجهًا، والإيمان من وجه واحد حملناها على الإيمان

“Jika suatu ucapan mengandung kemungkinan kufur dari sembilan puluh sembilan sisi dan kemungkinan iman dari satu sisi, maka kita harus membawanya kepada makna iman.”

Perkataan ini sangat sesuai dengan ujian yang dialami oleh Ibnu Hibban. Kisahnya bermula ketika Ibnu Hibban sedang mengajar di Naisabur dan ditanya tentang makna kenabian. Ia menjawab,

النبوة ((العلم والعمل))

“Kenabian adalah ilmu dan amal.”

Di majelis itu hadir beberapa penceramah, dan salah seorang dari mereka menuduhnya sebagai zindik karena dianggap berpendapat bahwa kenabian bisa diperoleh dengan usaha manusia. Suasana menjadi gaduh, orang-orang terpecah antara yang membela dan yang menuduh. Para penentangnya kemudian membuat laporan resmi, memvonisnya zindik, melarang orang menghadiri majelisnya, bahkan mengirim surat kepada khalifah Abbasiyah agar ia dihukum mati.

Khalifah memerintahkan agar perkara itu diselidiki dan jika tuduhan itu benar, maka ia dihukum. Setelah melalui proses panjang, terbukti bahwa Ibnu Hibban tidak bersalah. Namun, ia tetap dipaksa meninggalkan Naisabur menuju Sijistan. Di sana pun fitnah masih mengikutinya. Seorang penceramah bernama Yahya bin ‘Ammar terus menghasut masyarakat terhadapnya hingga akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Bust. Ia menetap di sana sampai wafatnya dalam keadaan sedih akibat tuduhan tersebut.

Padahal, ucapan “Kenabian adalah ilmu dan amal” memiliki makna yang benar jika dipahami dengan tepat. Maksudnya adalah bahwa sifat dan tugas utama para Nabi adalah memiliki ilmu yang sempurna dan amal yang sempurna. Namun, tidak setiap orang yang berilmu dan beramal bisa menjadi Nabi, karena kenabian adalah pilihan dan anugerah khusus dari Allah, bukan sesuatu yang dapat diusahakan manusia.

Kalimat ini seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Haji itu adalah Arafah,” yang menunjukkan pentingnya wukuf di Arafah, tetapi bukan berarti haji sah hanya dengan wukuf itu saja tanpa memenuhi rukun lainnya. Demikian pula ilmu dan amal adalah bagian penting dari kenabian, dan itulah yang dimaksud Ibnu Hibban.

Fitnah ini mengingatkan pada ujian yang pernah dialami Imam Al-Bukhari. Semoga Allah merahmati kedua imam besar ini, meninggikan derajat mereka, dan menjadikan umat Islam mampu menjaga kehormatan para ulama dari tuduhan dan fitnah yang tidak benar.

Pujian para ulama

Ibnu Hibban memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ilmu hadis. Ia termasuk ulama besar yang sampai-sampai orang-orang melakukan perjalanan jauh untuk mendengar langsung kitab-kitab dan sanad-sanadnya. Keilmuan dan keutamaannya diakui oleh para ulama sezamannya maupun generasi setelahnya.

Muridnya sendiri, Abu Abdullah Al-Hakim yang merupakan seorang ulama besar hadis dan penulis kitab Al-Mustadrak, memuji beliau dengan mengatakan,

كان ابن حبان من أوعية العلم في الفقه واللغة، والحديث والوعظ، ومن عقلاء الرجال

“Ibnu Hibban adalah salah satu gudang ilmu dalam bidang fikih, bahasa, hadis, dan nasihat (dakwah). Ia juga termasuk orang yang cerdas dan bijaksana.”

Adz-Dzahabi menggambarkan Ibnu Hibban dengan mengatakan,

الإمام العلامة، الحافظ المجوِّد، شيخ خراسان

“Ia adalah seorang imam besar, ulama yang sangat berilmu, hafizh yang teliti dan kuat hafalannya, serta Syekh Khurasan.”

Al-Hafizh Abu Sa‘d Al-Idrisi berkata tentang Ibnu Hibban,

كان ابن حبان من فقهاء الدين، وحفاظ الآثار، عالما بالطب وبالنجوم [يقصد الفلك] وفتون العلم، وقد صنف المسند الصحيح، وقد تولى قضاء سمرقند زمانًا؛ فنشر الفقه والعلم هناك بين الناس

“Ia termasuk ulama besar dalam agama, hafizh dalam hadis, serta memiliki pengetahuan tentang ilmu kedokteran dan ilmu bintang (astronomi), juga menguasai berbagai cabang ilmu. Ia menyusun kitab Al-Musnad Ash-Shahih, dan pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Samarkand untuk beberapa waktu. Di sana ia menyebarkan ilmu fikih dan ilmu agama di tengah masyarakat.”

Al-Khatib Al-Baghdadi berkata tentang Ibnu Hibban,

كان ابن حبان ثقة نبيلا فهمًا

“Ia adalah seorang yang terpercaya (tsiqah), mulia, dan memiliki pemahaman yang baik.”

Sebagian ulama juga berpendapat bahwa jika Ibnu Hibban tidak memasukkan sebagian perawi yang tidak dikenal (majhul) sebagai perawi terpercaya dalam kitab Musnad-nya, maka kedudukan kitab tersebut bisa saja sejajar dengan enam kitab hadis yang terkenal (Kutubus Sittah). Bahkan, hal itu mungkin akan semakin meninggikan posisi dan kedudukannya di antara para ulama hadis.

Wafat

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban رحمه الله wafat pada bulan Syawal tahun 354 H. Saat itu, usianya sekitar delapan puluh tahun. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa beliau dan memberikan balasan berupa surga-Nya.

Baca juga: Biografi Abdullah bin Al Mubarak

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari :

[1] Alukah.net

[2] Ketabonline.com

[3] Mawdoo3.com

[4] Arab-ency.com.sy


Artikel asli: https://muslim.or.id/114326-biografi-ibnu-hibban.html